Kamis, November 05, 2009

Pelajaran 2 Penyuluhan Pertanian

II. Kegiatan Belajar 2

Menjelaskan Filsafat dan Prinsip Penyuluhan Pertanian

a. Tujuan

Setelah mempelajari mdul ini siswa mampu untuk memahami :

1. Siswa dapat memahami tentang filsafat pendidikan dan penyuluhan

2. Siswa dapat memahami konsep filosofi di dunia pendidikan

3. Siswa dapat mengetahui strategi dan konsep pembelajaran di dalam penyuluhan pertanian

4. Siswa dapat memahami tentang prinsip penyuluhan pertanian

b. Uraian Materi

1. Aliran-aliran filsafat

Pendidikan yang kita kenal ada 3 yaitu :

a. Pendidikan formal yaitu seragam, homogen (jenjang dan usia), telah terpogram dan biasanya waktunya lama

b. Pendidikan non formal yaitu heterogen, andragogi (pendidikan orang dewasa) waktunya pendek

c. Pendidikan informal yaitu pendidikan didalam keluarga

Dalam khasanah kepustakaan penyuluhan pertanian, banyak kita jumpai beragam falsafah penyuluhan pertanian. Berkaitan dengan itu, Ensminger (1962) mencatat adanya 11 (sebelas) rumusan tentang falsafah penyuluhan.
Di Amerika Serikat juga telah lama dikembangkan falsafah 3-T: teach, truth, and trust (pendidikan, kebenaran dan kepercayaan/keyakinan).

Artinya, penyuluhan merupakan kegiatan pendidikan untuk menyampaikan kebenaran-kebenaran yang telah diyakini. Dengan kata lain, dalam penyuluhan pertanian, petani dididik untuk menerapkan setiap informasi (baru) yang telah diuji kebenarannya dan telah diyakini akan dapat memberikan manfaat (ekonomi maupun non ekonomi) bagi perbaikan kesejahteraannya.

Filsafat merupakan orang yang cinta kebijakan atau berdasarkan pemikiran. Aliran filsafat yang dikenal adalah :

1. Aliran filsafat naturalisme yaitu suatu realita yang kenyataannya di alam fisik (alami), orangnya biasanya disebut naturalis

2. Aliran filsafat idelisme yaitu bahwa kenyataan terdiri dari gagasan-gagasan, ide-ide, pemikiran, kalau pemikiran benar itulah kenyataannya tidak tergantung pada fisik/alam. Orangnya biasanya disebut idealis.

3. Aliran filsafat realisme (nyata, anak dari naturalism) yaitu untuk kearah yang lebih baik apa yang harus dilakukan yaitu mencoba, agar pintar belajar, orangnya biasanya disebut realistis

4. Aliran filsafat pragmatisme yaitu bahwa berjalannya sesuatu sesuai dengan proses, berjenjang dan bertahap

Konsep filosofi didunia pendidikan (pioder gramer, 1960)

a. Sistem filsafat pendidikan dengan progressivisme, dilandasi oleh aliran filsafat naturalisme, realisme dan pragmatisme yaitu mempercayai suatu evolusi/rangkaian proses manusia dalam dunia pendidikan punya kemampuan untuk berubah menjadi bisa, trampil, punya sikap positif dan berubah prilaku. Pengalaman merupakan bakal utama untuk mengetahui kenyataan yang harus dicoba

b. Sistem filsafat pendidikan dengan essensialisme dilandasi oleh aliran filsafat idealisme, realism yaitu dunia pendidikan harus teruji kebenarannya/yang esensial

c. Sistem filsafat pendidikan dengan parenialisme dilandasi aliran idealisme yaitu pendidikan itu seperti yang dilakukan pada zaman dahulu, kenytaannya ada dibalik alam artinya bahwa didalam dunia pendidikan harus berfikir untuk mengarah spiritual, sikap, pemikiran, mengembangkan pemikiran, ide untuk terus maju.

d. Sistem filsafat pendidikan dengan rekonstruksialisme dilndasi oleh aliran naturalis, realistis dan pragmatis yaitu merubah pendidikan secara radikal/kegiatan lebih kasar, dari bodoh ke pintar. Pendidikan membangkitkan secara konstruktif, berubah sesuai dengan perkembangan masyarakat, ilmu dan teknologi yang ada, tidak dikembangkan hal-hal lain yang bukan perkembangan zaman

Penyuluhan merupakan pendidikan non formal yang artinya filsafahnya tidak dapat dipisahkan dari filsafah pendidikan pada umumnya. Starategi pembelajaran yang menggunakan konsep pendidikan dalam melakukan penyuluhan adalah sebagai berikut :

1. Landasan progressivisme didalam penyuluhan pertanian adalah lerning by doing artinya petani belajar sambil berbuat untuk mendapatkan realita

2. Landasan essensialisme didalam penyuluhan pertanian adalah seing is believing artinya petani mau percaya bila melihat kenyataan esensi = kebenaran

3. Landasan konstruksialisme didalam penyuluhan pertanian adalah problem solving artinya memecahkan masalah petani untuk membangun, mengubah kearah perbaikan

Aliran filsafat penyuluhan pertanian menurut A.T Moser adalah 3 T

1. Truth (benar) adalah Sesutu hal yang benar, materi yang disuluhkan teruji (esensi)

2. Trush (yakin/keyakinan) believer adalah materi yang disampaikan untuk peningkatan petani dan telah dimengerti penyuluh

3. Teach (mengajar/pendidikan) adalah penyuluhan merupakan pendidikan harus sesuai dengan kenytaan yang ada dan sesuai kemampuan petani.

Electic penyuluhan pertanian harus mempunyai ideal (cita-cita luhur) juga harus berdasarkan hal-hal yang nyata di lapangan (pragmatis), harus secara objektif/lurus (relistis) jangan direka-reka.

Penyuluhan proses yang terus menerus, prosesnya demokrasi, ajak berembuk dan prosesnya berkelanjutan.

1. Prinsip penyuluhan pertanian

Mathews menyatakan bahwa: prinsip adalah suatu pernyataan tentang kebijaksanaan yang dijadikan pedoman dalam pengambilan keputusan dan melaksanakan kegiatan secara konsisten. Karena itu, prinsip akan berlaku umum, dapat diterima secara umum, dan telah diyakini kebenarannya dari berbagai pengamatan dalam kondisi yang beragam. Dengan demikian “prinsip” dapat dijadikan sebagai landasan pokok yang benar, bagi pelaksanaan kegiatan yang akan dilaksanakan.

Meskipun “prinsip” biasanya diterapkan dalam dunia akademis, Leagans(1961) menilai bahwa setiap penyuluh dalam melaksanakan kegiatannya harus berpegang teguh pada prinsip-prinsip penyuluhan.

Tanpa berpegang pada prinsip-prinsip yang sudah disepakati, seorang penyuluh (apalagi administrator penyuluhan) tidak mungkin dapat melaksanakan pekerjaannya dengan baik.

Bertolak dari pemahaman penyuluhan sebagai salah satu sistem pendidikan, maka penyuluhan memiliki prinsip-prinsip:

1) Mengerjakan, artinya, kegiatan penyuluhan harus sebanyak mungkin melibatkan masyarakat untuk mengerjakan/ menerapkan sesuatu. Karena melalui “mengerjakan” mereka akan mengalami proses belajar (baik dengan menggunakan pikiran, perasaan, dan ketrampilannya) yang akan terus diingat untuk jangka waktu yang lebih lama.

2) Akibat, artinya, kegiatan penyuluhan harus memberikan akibat atau pengaruh yang baik atau bermanfaat. Sebab, perasaan senang/puas atau tidak-senang/kecewa akan mempengaruhi semangatnya untuk mengikuti kegiatan belajar/ penyuluhan dimasa-masa mendatang.

3) Asosiasi, artinya, setiap kegiatan penyuluhan harus dikaitkan dengan kegiatan lainnya. Sebab, setiap orang cenderung untuk mengaitkan/menghubungkan kegiatannya dengan kegiatan/peristiwa yang lainnya.Misalnya, dengan melihat cangkul orang diingatkan kepada penyuluhan tentang persiapan lahan yang baik; melihat tanaman yang kerdil/subur, akan mengingatkannya kepada usaha-usaha pemupukan, dll.

Prinsip penyuluhan pertanian yang mengacu pada filsafah penyuluhan pertanian

a. Sesuai dengan kenyataan, penyuluh harus tahu wilayah kerja agar tahu masalah petani

b. Sesuai dengan kebutuhan petani/sasaran

c. Harus ditujukan kepada petani dan keluarganya (hal ini berlaku apabila usahatani melibatkan semua anggota keluarganya)

d. Harus sesuai dengan waktu senggang petani

e. Proses demokrasi

f. Menggunakan metode yang spescial (sesuai keperluan mereka)

g. Harus memahami problem

h. To help people helf them selfes (kita bantu dan akan mampu membntu dirinya sendiri)

Lebih lanjut, Dahama dan Bhatnagar (1980) mengungkapkan prinsip-prinsip penyuluhan yang lain yang mencakup:

1) Minat dan Kebutuhan, artinya, penyuluhan akan efektif jika selalu mengacu kepada minat dan kebutuhan masyarakat. Mengenai hal ini, harus dikaji secara mendalam: apa yang benar-benar menjadi minat dan kebutuhan yang dapat menyenangkan setiap individu maupun segenap warga masyarakatnya, kebutuhan apa saja yang dapat dipunyui sesuai dengan tersedianya sumberdaya, serta minat dan kebutuhan mana yang perlu mendapat prioritas untuk dipenuhi terlebih dahulu.

2) Organisasi masyarakat bawah, artinya penyuluhan akan efektif jika mampu melibatkan/menyentuh organisasi masyarakat bawah, sejak dari setiap keluarga/kekerabatan.

3) Keragaman budaya, artinya, penyuluhan harus memperhatikan adanya keragaman budaya. Perencanaan penyuluhan harus selalu disesuaikan dengan budaya lokal yang beragam.Di lain pihak, perencanaan penyuluhan yang seragam untuk setiap wilayah seringkali akan menemui hambatan yang bersumber pada keragaman budayanya.

4) Perubahan budaya, artinya setiap kegiatan penyuluhan akan mengakibatkan perubahan budaya. Kegiatan penyuluhan harus dilaksanakan dengan bijak dan hati-hati agar perubahan yang terjadi tidak menimbulkan kejutan-kejutan budaya. Karena itu, setiap penyuluh perlu untuk terlebih dahulu memperhatikan nilai-nilai budaya lokal seperti tabu, kebiasaan-kebiasaan, dll.

5) Kerjasama dan partisipasi, artinya penyuluhan hanya akan efektif jika mampu menggerakkan partisipasi masyarakat untuk selalu bekerjasama dalam melaksanakan program-program penyuluhan yang telah dirancang.

6) Demokrasi dalam penerapan ilmu, artinya dalam penyuluhan harus selalu memberikan kesempatan kepada masyarakatnya untuk menawar setiap ilmu alternatif yang ingin diterapkan. Yang dimaksud demokrasi di sini, bukan terbatas pada tawar-menawar tentang ilmu alternatif saja, tetapi juga dalam penggunaan metoda penyuluhan, serta proses pengambilan keputusan yang akan dilakukan oleh masyarakat sasarannya.

7) Belajar sambil bekerja, artinya dalam kegiatan penyuluhan harus diupayakan agar masyarakat dapat “belajar sambil bekerja” atau belajar dari pengalaman tentang segala sesuatu yang ia kerjakan. Dengan kata lain, penyuluhan tidak hanya sekadar menyampaikan informasi atau konsep-konsep teoritis, tetapi harus memberikan kesempatan kepada masyarakat sasaran untuk mencoba atau memperoleh pangalaman melalui pelaksanaan kegiatan secara nyata.

8. Penggunaan metoda yang sesuai, artinya penyuluhan harus dilakukan dengan penerapan metoda yang selalu disesuaikan dengan kondisi (lingkungan fisik, kemampuan ekonomi, dan nilai sosial budaya) sasarannya.
Dengan kata lain, tidak satupun metoda yang dapat diterapkan di semua kondisi sasaran dengan efektif dan efisien.

9) Kepemimpinan, artinya, penyuluh tidak melakukan kegiatan-kegiatan yang hanya bertujuan untuk kepentingan/kepuasannya sendiri, dan harus mampu mengembangkan kepemimpinan.Dalam hubungan ini, penyuluh sebaiknya mampu menumbuhkan pemimpin-pemimpin lokal atau memanfaatkan pemimpin lokal yang telah ada untuk membantu kegiatan penyuluhannya.

10) Spesialis yang terlatih, artinya, penyuluh harus benar-benar pribadi yang telah memperoleh latihan khusus tentang segala sesuatu yang sesuai dengan fungsinya sebagai penyuluh. Penyuluh-penyuluh yang disiapkan untuk menangani kegiatan-kegiatan khusus akan lebih efektif dibanding yang disiapkan untuk melakukan beragam kegiatan (meskipun masih berkaitan dengan kegiatan pertanian).

11) Segenap keluarga, artinya, penyuluh harus memperhatikan keluarga sebagai satu kesatuan dari unit sosial. Dalam hal ini, terkandung pengertian-pengertian:

a) Penyuluhan harus dapat mempengaruhi segenap anggota keluarga,

b) Setiap anggota keluarga memiliki peran/pengaruh dalam setiap pengambilan keputusan,

c) Penyuluhan harus mampu mengembangkan pemahaman bersama

d) Penyuluhan mengajarkan pengelolaan keuangan keluarga

e) Penyuluhan mendorong keseimbangan antara kebutuhan keluarga dan kebutuhan usahatani,

f) Penyuluhan harus mampu mendidik anggota keluarga yang masih muda,

g)Penyuluhan harus mengembangkan kegiatan-kegiatan keluarga, memperkokoh kesatuan keluarga, baik yang menyangkut masalah sosial, ekonomi, maupun budaya

h) Mengembangkan pelayanan keluarga terhadap masyarakat-nya.

12) Kepuasan, artinya, penyuluhan harus mampu mewujudkan tercapainya kepuasan.
Adanya kepuasan, akan sangat menentukan keikutsertaan sasaran pada program-program penyuluhan selanjutnya.

1. Terkait dengan pergeseran kebijakan pembangunan pertanian dari peningkatan produktivitas usahatani ke arah pengembangan agribisnis, dan di lain pihak seiring dengan terjadinya perubahan sistem desentralisasi pemerintahan di Indonesia, telah muncul pemikiran tentang prinsip-prinsip (Soedijanto, 2001):

2. Kesukarelaan, artinya, keterlibatan seseorang dalam kegiatan penyuluhan tidak boleh berlangsung karena adanya pemaksaan, melainkan harus dilandasi oleh kesadaran sendiri dan motivasinya untuk memperbaiki dan memecahkan masalah kehidupan yang dirasakannya.

3. Otonom, yaitu kemampuannya untuk mandiri atau melepaskan diri dari ketergantungan yang dimiliki oleh setiap individu, kelompok, maupun kelembagaan yang lain.

4. Keswadayaan, yaitu kemampuannya untuk merumuskan melaksanakan kegiatan dengan penuh tanggung-jawab, tanpa menunggu atau mengharapkan dukungan pihak luar.

5. Partisipatip, yaitu keterlibatan semua stakeholders sejak pengambilan keputusan, perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, evaluasi, dan pemanfaatan hasil-hasil kegiatannya.

6. Egaliter, yang menempatkan semua stakehoder dalam kedudukan yang setara, sejajar, tidak ada yang ditinggikan dan tidak ada yang merasa diirendahkan.

7. Demokrasi, yang memberikan hak kepada semua pihak untuk mengemukakan pendapatnya, dan saling menghargai pendapat maupun perbedaan di antara sesama stakeholders.

8. Keterbukaan, yang dilandasi kejujuran, saling percaya, dan saling mempedulikan.
Kebersamaan, untuk saling berbagi rasa, saling membantu dan mengembangkan sinergisme.

9. Akuntabilitas, yang dapat dipertanggungjawabkan dan terbuka untuk diawasi oleh siapapun.

10. Desentralisasi, yang memberi kewenangan kepada setiap daerah otonom (kabupaten dan kota) untuk mengoptimalkan sumberdaya pertanian bagi sebesar-besar kemakmuran masyarakat dan kesinambungan pembangunan.

Menurut valera at all (1987) prinsip penyuluhan pertanian adalah :

1. Bekerja dengan klein, bukan untuk klein

2. Bekerjasama dan melakukan koordinasi dengan organisasi pembangunan lainnya

3. Pertukaran informasi yang bersifat dua arah

4. Bekerja dengan kelompok-kelompok sasaran yang berbeda-beda di masyarakat

5. Bekerja melalui apa yang klein ketahui dan memiliki

6. Masyarakat harus ikut serta dalam semua aspek kegiatan pendidikan dan penyuluhan.

Evaluasi belajar 2

I. Evaluasi Kognitif

Bentuk tes : tertulis dan lisan

Bentuk soal essey

1. Tuliskan Pengertian aliran filsafat naturalisme !

2. Disebut apakah orang yang memiliki filsafat idealisme itu ?

3. Strategi pembelajaran apa yang dilakukan dalam penyuluhan pertanian apabila Konsep filosfinya dengan progresivisme ?

4. Tuliskan pengertian dari seing is believing dalam strategi pembelajaran penyuluhan pertanian !

5. Tuliskan aliran filsafah penyuluhan pertanian yang dikemukakan oleh A.T Moser

6. Apa pengertian dari asosiasi pada prinsip penyuluhan !

7. Tuliskan prinsip penyuluhan pertanian yang mengacu pada filsafah penyuluhan pertanian

8. Jelaskan pengertian dari belajar sambil bekerja pada prinsip penyuluhan yang dikemukakan Dharma dan bhatnagar (1980)

9. prinsip penyuluhan pertanian Menurut valera et, al (1987) bekerja dari apa yang klein ketahui dan miliki. Jelaskan apa maksud dari pernyataan tersebut.

10. Apa saja yang termaksud dalam pengertian segenap keluarga pada prinsip penyuluhan yang dikemukakan Dharma dan bhatnagar (1980)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar